Sriwijaya Sepenggal Sejarah Yang Hilang

“Sebuah kerajaan bisa saja tenggelam, namun suatu saat akan muncul lagi. Sriwijaya sejak Indonesia merdeka belum menjadi pokok pembicaraan, mungkin dari Pagar Alam ini akan dimulai.”
Ungkapan yang disampaikan Gubernur Provinsi Bengkulu, Agusrin M. Najamudin, itu mungkin ada benarnya. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia memang tak terlepas dari keberadaan kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan tertua Melayu kuno, dan memiliki pengaruh besar sampai ke wilayah Asia Tenggara mengingat kerajaan ini termasuk kerajaan maritim.
Sejarawan, Djohan Hanafiah dalam sebuah makalahnya yang disajikan dalam seminar bertajuk peradaban Besemah Sebagai Pendahulu Kerajaan Sriwijaya di kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Sabtu (28/1), mengungkapkan sejak sejarawan Prancis, George Coedes tahun 1918 menyatakan Sriwijaya beribukota di Palembang silang pendapatpun terjadi. Puluhan pakar sejarah dan praktisi berbagai disiplin ilmu telah mengungkapkan beragam pendapat dalam berbagai seminar, lokakarya, diskusi dan forum ilmiah lainnya yang tak menemui titik temu selama lebih dari 70 tahun terkait ibu kota kerajaan tersebut.
Masa kekuasaan Sriwijaya menurut Muslihun, seorang sejarawan Bengkulu, dimulai abad ke-6 sampai ke-7 masehi. Pusat kekuasaan terletak di Bukit Barisan bagian barat, masuk Kabupaten Kaur, propinsi Bengkulu. Kerajaan ini didukung sekitar 40 kerajaan wilayah yang otonom, tersebar di bekas kerajaan Srijaya dan Sribuana di pantai parat provinsi Bengkulu Selatan.Hampir dua abad kerajaan ini berpusat di kaki Bukit Barisan bagian barat.
Namun, setelah Dapunta Hyang Sri Jayanasa berkuasa, ia memerintahkan untuk menutup kerajaan dan memindahkan pusat pemerintahan ke Palembang. Kerajaan wilayah (raja kecil) pindah menyebar dari Riau sampai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Raja wilayah yang dipindahkan ke Jawa Tengah diminta secepatnya membangun candi guna mengalihkan perhatian, penutupan kerajaan di bukit barisan yang bertujuan untuk memajukan jagad ini. Proses penutupan kerajaan Sriwijaya yang berpusat di bukit barisan dan penyebaran raja-raja wilayah (raja kecil) dapat diketahui dengan mempelajari sejumlah prasasti yang dikeluarkan kerajaan pusat dan raja wilayah setelah mereka berada di wilayah yang baru. Seperti prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di daerah Kedukan Bukit, ditepi sungai Tatang dekat Palembang dengan angka 604 Saka atau 682 Masehi berhuruf palawa. Prasasti ini berisi kepindahan raja Sriwijaya dari istana di Bukit Barisan bagian barat (sekarang daerah Bengkulu) ke Palembang.
Suku Besemah
Lalu, apa kaitan antara kota Pagar Alam dengan Sriwijaya ? Perjalanan darat sekitar enam jam yang melelahkan dari kota Palembang ke Pagar Alam berupaya mengungkap keterkaitan antara kedua kota yang berjarak 298 kilometer itu. Kota Pagar Alam yang diapit gunung Dempo dan pegunungan Bukit barisan, dikenal sebagai wilayah Besemah. Istilah Besemah atau Pasemah adalah julukan bagi sekelompok orang yang menghuni wilayah tersebut. Merekapun menyebar sampai wilayah Bengkulu, Jambi dan Lampung yang dahulu masih bagian dari propinsi Sumatera Selatan.Sampai sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asal-usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku Besemah, masih diliputi kabut misteri. Mitos Poyang Atong Bungsu, menyebutkan mereka bermukim bersama rombongan keluarga. Atong Bungsu menemukan ikan Semah di perairan dataran tinggi antara bukit barisan dengan gunung Dempo hingga wilayah ini disebut Besemah. Dalam perkembangannya disebut sebagai tanah Besemah, ranah Besemah atau jagat Besemah.
Hidayat Harun, seorang sejarawan menyebutkan suku bangsa Besemah atau Pasemah memiliki peninggalan tradisi megalitik yang jumlahnya mencapai ratusan buah. Di dataran tinggi Pasemah terdapat banyak arca atau patung yang menggambarkan manusia masa kini. Batu megalit Hindu-Budha juga ditemukan di tanah Pesemah oleh sejumlah ahli arkeologi tahun 1932. Arca-arca tersebut ditemukan di dusun Tegur Wangi dan dusun lain di Pasemah yang menjadi peninggalan zaman megalit. Masyarakat Basemah juga menyimpan sejumlah benda bersejarah milik kerajaan Sriwijaya yang berbentuk emas, kain songket, senjata jaman Hindu dan sejumlah alat kesenian di abad ke-17. Bertepatan dengan pemerintahan Sultan Badarudin II yang berkuasa di Palembang sebelum dijajah Inggris maupun Belanda.
”Keberadaan Besemah sejajar dengan Sriwijaya. Kalau bicara Kesultanan, tidak ada Besemah. Yang menjadikan sultan Palembang adalah sultan Banten dan Cirebon,” kata Harun.
Namun menurut Noerhadi Magetsari, arkeolog dari Universitas Indonesia, Basemah memiliki peninggalan tradisi megalit, sedangkan Sriwijaya beragama Hindu/Budha. Kalau ingin dikatakan keduanya berkesinambungan dibutuhkan bukti seperti adanya peninggalan Hindu/Budha.Secara arkeologi sebelum ajaran Hindu/Budha datang, sudah ada kebudayaan yang berkembang. Budaya baru yang datang sifatnya hanya menyesuaikan. ”Kalau dikatakan Sriwijaya adalah kelanjutan dari Besemah belum ada buktinya. Tapi kalau disitu ada sebuah peradaban memang benar,” kata Noerhadi.
Namun, Noerhadi menambahkan tidak tertutup kemungkinan lain. Munculnyakerajaan Sriwijaya di Palembang bersamaan dengan berkembangnya Basemah sehingga keduanya hidup sejajar. ”Tapi sampai kini belum ada bukti ditemukannya peninggalan megalit di Sriwijaya. Jadi belum bisa dikatakan keduanya nyambung,” katanya. N hir
Kesultanan Siap Bantu
Pihak keraton kesultanan Palembang akan menyiapkan bantuan berupa dana dan fasilitas lain yang dibutuhkan bagi pengungkapan misteri sejarah Besemah dan kerajaan Sriwijaya tersebut.Ada tidaknya hubungan antara Besemah dan Palembang, akan diteliti kembali oleh Universitas Indonesia, guna menguatkan apa yang telah disampaikan di simposium tersebut.
”Kami akan bantu karena Palembang memiliki peninggalan bersejarah seperti batu bertulis, peninggalan Melayu kuno, Sriwijaya ekspansi ke Asia Tengara. Selama ini penelitian belum mampu mengungkap misteri lantaran keterbatasan dana dan kemampuan arkeolog untuk melakukan penelitian ,” kata Sultan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Di Palembang terdapat museum Sriwijaya dan Balaputradewa. Selain itu ada museum kesultanan yang bersebelahan dengan benteng Kuto Besak yang menjadi pusat pemerintahan kesultanan Palembang abad ke-18. Benteng Kuto Besak atau keraton baru dibangun menghadapi sungai Musi. Benteng itu kini menjadi markas Kodam Sriwijaya
Hal serupa juga disampaikan walikota Pagar Alam, Djazuli Kuris yang akan menyiapkan dana khusus dari APBD setempat. Namun, pihaknya masih akan meminta persetujuan DPRD mengingat jumlah yang dibutuhkan tidaklah kecil. ”Kami akan siapkan berapapun yang dibutuhkan, sesuai kemampuan. Kita serahkan ke ahlinya,” kata Kuris.
Seminar tersebut merupakan awal dari upaya panjang yang perlu dilakukan dalam mengungkap peninggalan sejarah megalitik peradaban Besemah termasuk kaitannya dengan kerajaan Sriwijaya. Tentunya upaya tersebut membutuhkan waktu, tenaga dan keseriusan dari semua pihak. ”Pengkajian Besamah merupakan upaya positif terhadap cinta pada budaya dan tanah air,”

 

 

Ekspedisi Sriwijaya – Menapaki Jejak-Jejak Kejayaan Raja Sriwijaya

Hari itu Senin awan hitam bergayut diatas angkasa Gunung Dempo yang tetap tegar menjulang tinggi bagai Raksasa penuh Wibaha, tim Ekspedisi Bukit Raje Mandare yang dipimpin langsung Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Buaya Kota Pagar Alam Drs. Alex Musni, MM dengan koordinator lapangan Drs. Supratman bertolak menuju Desa Tanjung Ganti I Kecamatan Kaur Utara Kabupaten Kaur Propinsi Bengkulu yang ditempuh kurang lebih 4 jam.Perjalanan yang menyusuri punggung Bukit Barisan dengan jalanan yang agak sempit terasa lega disaat memasuki wilayah Kabupaten Manna Bengkulu Selatan, hamparan nyiur disepanjang pantai dengan deburan ombak lautan yang menghempas pantai menambah semangat dan keyakinan tim untuk memacu menyusuri jejak-jejak kejayaan Raja Sriwijaya dimana keberadaannya sampai sekarang masih menjadi folemix yang berkepanjangan.Rumah Kepala Desa Tanjung Ganti I Kecamatan Kaur Utara tempat tim Ekspedesi menginap yang terdiri dari Drs.Supratman sebagai koordinator lapangan, A.Hasannusi,S.Pd , Drs. Rahman, Firdaus dan Indra serta Darmo .Kepala Desa Tanjung Ganti I Yarsana (51) sekaligus sebagai pemandu tim untuk menyusuri keberadaan Kerajaan Sriwijaya yang hingga saat ini masih menjadi misteri. Klaim daerah yang menyatakan sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya yang Jaya selama 1000 tahun itu tak kunjung berhenti. Misalnya Palembang , Jambi , Bengkulu dan Lampung. Didaerah itu memang ditemukan bukti -bukti seperti di-Jambi adanya Komplek Candi Muara Jambi yang terletak di pinggir Sungai Batang Hari atau tepatnya dikabupaten Muara Jambi, di-Palembang adanya Prasasti Kedukan Bukit, dan lainnya.

Bukti-bukti itu ungkap Yarsana benar, sebagai daerah/Wilayah Kerajaan Sriwijaya atau sekarang disebut Propinsi atau Kabupaten. Namun pusatnya berada di-Bukit Raja Mendare dengan ketinggian 2278 M DPL, pembuktian sejarah yang ribuan tahun lalu memang sangat sulit, apalagi tempatnya berada dibukit hutan lebat yang sangat sulit dijangkau oleh Manusia. Masih kata Yarsana yang mulai mengembara atas perintah Ghaib sejak tahun 1982 untuk menemukan komplek Kerajaan dan Candi-candi diperlukan waktu sekitar 7 tahun. ” selama masa pencaharian Komplek Candi mengembara sekitar 7 tahun”, baru sekitar tahun 1995 ia mulai mendapat pengikut yakni penduduk setempat yang mendapat mimpi yang sama .

Terdapat 6600 Candi Di Sepanjang Bukit Barisan

Pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Bukit Gunung Mendare secara Adminsitratif dibawah wilayah Kabupaten Kaur Propinsi Bengkulu, Pagar Alam, Lahat, Semendo Propinsi Sumatera Selatan. Disepanjang Bukit Barisan ini ungkap yarsana yang mendapat bisikan Gaib terdapat 6600 Candi. Candi-Candi itu dibangun pada masa kejayaan Sriwijaya. Sebenarnya Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan ke-3, yang sebelumnya adalah Kerajaan Sri Jaya yang pertama dan Kerajaan Sri Buana kerajaan yang ke-dua.Ditambahkan Yarsana yang dikaruniai 4 Orang anak, yang besar sudah bekerja dan anak kedua tamat SMEA serta dua lainnya masih duduk di SMP dan SD. Sambil mengisap rokok dengan semangat suara lantang Kades tanjung Ganti I sejak tahun 2000 ini menceritakan Cikal
bakal kerajaan Sriwijaya dari 40 Kerajaan Nusantara dengan 18 Kerajaan sebagai pelopor diantaranya Kerajaan Dempo berpusat di-Pagar Alam, Kerajaan Dinding Alam Bengkulu, Kerajaan Kutu Surge Batu Kumbang Semendo, Kerajaan Tulang Bawang Lampung, Kerajaan Karang Birahi Jambi, Kerajaan Kembang Wangi Sumatera Barat, Kerajaan Pancoran Emas Banten, Kerajaan Waringin Sungsang Jawa Tengah, Kerajaan Kutai Kalimantan, Kerajaan Pak-Pak Irian Jaya, Kerajaan Pandangan Ujung Pandang, Kerajaan Rencong Sumatera Utara, Kerajaan Dewata Bali, dan lainnya. Ciri Kerajaan Sriwijaya ungkap Yarsana disetiap bangunannya ada ciri 3 Sakti yakni seperti belahan bambu berjajar 3 ini tegasnya sebagai ciri kerajaan masa lalu Sri Jaya, Sri Buana dan Sriwijaya. Di-Kalimantan, Ujung Pandang, Irian jaya bangunan Candi disana apabila ada lambang itu ia termasuk Kerajaan Sriwijaya.

Sungai Indikat Ada 300 Candi

Disepanjang Sungai Indikat Pagar Alam terdapat sekitar 300 Candi yang belum digali. Sambil menghisap Rokok Kretik Bapak dengan 4 anak keturunan Gumay Lahat ini cukup enerjik dan semangat bila bicara seputar Kerajaan Sriwijaya. Ia hanya tamat SMP tahun 70-an, namun sangat lancar mengemukakan pokok pikirannya.

Sriwijaya Milik Nusantara Malah Dunia

Bicara Pusat Kerajaan Sriwijaya ditegasknanya kita tidak bicara batas kedaerahan (suku) namun bicara secara global atau Nasional atau Nusantara. Penggalian Pusat Kerajaan Sriwijaya menurutnya merupakan penggalian sejarah Kehidupan umat Manusia termasuk dunia Internasional. Dalam bisikan gaib apabila PBB mengumumkan keberadaan Sriwiwjya
sekitar 18 Agustus 2005, maka berputar pula Sejarah Dunia.

Mengapa dikatakan demikian Katanya, sebab Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan besar yang menguasai separoh Dunia, di kerajaan ini pula menjadi pusat Ilmu Pengetahuan Dunia (Lingga Suci), pusat pengobatan, pusat perekonomian (perdagangan), pusat Pemerintahan, Pusat Olahraga, pusat pendidikan, pusat Militer, dan sebagainya.

Dikatakan pusat pengobatan karena nenek moyang kerajaan Sriwijaya mempunyai tanaman untuk mengobati segala macam jenis kanker atauTumor yah termasuk penyakit mematikan dan ditakuti saat ini HIV itu ada disini ( Pusat Kerajaan).Bicara Kanker cetusnya sebenarnya ada 40 macam jenis, diantaranya Kanker darah, kanker hati,kanker payudara, kanker Rahim,dan lainnya.Bagi nenek moyang kita sedikit merendah katanya itu semua ada obatnya berupa akar, daunan, dan sejenis jamur .
Ia kembali bercerita pengembaraannya hampir 10 tahun sejak tahun 1995 sudah ribuan orang berhasil ditolong yang mengidap penyakit kanker atau Tumor.Pengalamannya di-Lampung hampir 3 tahun, Insya Allah ratusan pengidap penyakit ganas ini tertolong yang secara medis sulit disembuhkan Penyembuhan itu ungkapnya tidak lama sekitar 1-2 jam. Melalui cara tradisional meminum ramuan obat-obatan tertentu.

Perjalanan Tim Ekspedisi Pagar Alam

Untuk membuktikan Keberadaan Pusat Kerajaan Sriwijaya tim Ekspedesi Dinas pariwisata dan Seni Budaya Kota Pagar Alam diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah bagi Kerajaan Sriwijaya Tempoe dulu. Hari pertama Selasa (15/2) tim dengan anggota 15 orang termasuk dari Desa Tanjung ganti I, berkunjung ke-Benteng Raden Suane yang terletak didaerah Semende melewati Sungai Luas dengan arus yang deras.

Diteruskan ke-Bukit Tembok , bukit ini dengan ketinggian sekitar 700 M dari Permukaan Laut dimana terdapat Candi untuk pertemuan para Raja serta sebuah Menara pengawas dengan ketinggian 315 M dan lebar 4 M yang terlihat sangat megah persis berada disisi Gedung Pencakar Langit dengan kilauan cahaya bak cahaya permata. Menurut Yarsana diatas bukit atau Candi ini terdapat areal obat-obatan termasuk ada pohon jeruk tipis yang besar buahnya sebesar buah kelapa, serta obat-obatan lainnya. Keberadaan Bukit Tembok ini persis di segi tiga Emas perbatasan Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung. Untuk mencapai Bukit Tembok diperlukan waktu sekitar 1-2 jam tergantung cuaca. Tim melewati sungai dan apabila hujan sering banjir. Disini juga kita dapat melanjutkan perjalanan menuju air terjun dibawah air ini pula terdapat pintu masuk menuju bangunan Candi.

Hari ke-2 Rabu tim beristirahat dan baru meneruskan perjalanan di hari ke-3 Kamis (17/2) sekitar pukul 09.00 11 orang tim Ekspedesi menuju desa Naga Rantai sekitar 15 KM dan dari sini dengan berjalan kaki sekitar 6 jam baru sampai di sungai Merah tempat pemandian Raja. Perjuangan untuk mencapai komplek percandian dengan pemandian yang indah menawan ini harus naik dan turun bukit dan 5 kali melewati sungai kecil/besar. Namun demikian pertualangan semakin mengasyikkan
tatkala kita berada di daerah pemandian kerajaan. Menurut Yarsana pemandian Raja ini sepanjang 3 KM, dengan beton batu alam dikiri dan kanan Sungai Merah yang ditata cukup bagus lengkap dengan tempat sabun, tempat mencuci pakaian, ganti pakaian, mandi mata hari (berjemur) dan tempat istirahat sertab terdapat banyak lubang-lubang tempat menumbuk Emas disaat pulang mendulang Emas. Dikatakan Yarsana pemandian ini terbagi 4 jenis, yakni pemandian Hulu Balang (Tentara) disini terdapat air terjun dan arus yang cukup deras kedalaman sekitar 2 M, pemandian dayang-dayang, pemandian Umum (Masyarakat Umum) dan pemandian tamu-tamu Raja. Pemandian tamu-tamu raja ada tempat pengawalan sebuah batu besar dimana dibawahnya air terjun dengan kiri
kanan sungai ditata begitu cantik dan disini pula terdapat batu drum (batu pemandian) yang berada tepat ditengah-tengah Sungai, konon ini juga digunakan untuk pemandian tamu-tamu Raja.

Tim Ekspedesi tiba dipemandian ini sekitar pukul 16.00 Wib beristirahat ditenda melepas kepenatan dan kelelahan dan bermalam semalam baru meneruskan perjalanan kepemandian tamu-tamu Raja. Dari tempat kami bersitirahat hanya perjalanan 5 menit sampai kepemandian Umum dan pemandian tamu Raja khusus pemandian Raja ini sepanjang 200 M terdapat 120 kolam husus untuk tamu-tamu kerajaan. Daerah ini kata Yarsana sudah mulai terbuka,banyak masyarakat yang membuka lahan perkebunan, kalau dulu tahun 1982-1990-an masih sepi tidak ada yang berani karena semak belukar.Terkenal angker. Dikatakan Air Merah jelasnya sebab disepanjang sungai ini banyak terdapat Emas dan dihulu sungai banyak rakyat menambang Emas meski dengan cara Tradisional.

Saat tim ekspedesi menuju daerah pemandian berpapasan dengan pak Ripin (65) Desa Naga Rantai pendulang Emas sehari dapat sekitar 3 gram Emas.

Hari ke-5 Jumat (18/2) dari pusat Pemandian menyusuri sungai Merah dan mendaki dan menuruni bukit terjal ditempuh sekitar 5 jam sampai ke- Bukit Tabuhan tempat pusat Kerajaan Sriwijaya, kami tiba sekitar pukul 17.00 Wib dipinggir kali (sungai) Kinal yang arusnya cukup deras. Perjalanan diteruskan hari Sabtu (19/2) dengan mendaki bukit batuan terjal dengan ketinggian sekitar 300 M untuk mencapai Bola-bola batu, Kantor Panglima dan Kantor Raja dan Wakil Raja. Penunjuk jalan (Guid) Yarsana kian terlihat gembira dan bersemnagat sebelum sampai di-batu bola ada sebuah Guci buntu disini terdapat Guci-guci yang disusun persisi buku perpustakaan. Sedangkan dinamakan Batu Bolla dimana terdapat 9 buah batu yang berukuran sangat besar sampai kecil menunjukkan bahwa setiap pergantian pimpinan tertinggi Kerajaan, seperti Panglima harus diuji dengan menendang batu kramat. Konon Panglima Alif mampu menendang batu Bolla besar ke-angkasa selama 100 hari baru sampai ke-bumi dan ia lah yang menjadi Panglima Kerajaan, begitu seterusnya Bolla yang sedang sebagai wakil, dan lainnya.Dari Batu Bollah kami berada dilantai 5 Kerjaan dimana diapit oleh dinding alam yang menurut Yarsana sebagai pagar Kerajaan dengan panjang 6000 M (6 KM) dengan ketebalan 10 M.Dari batas dua bangunan ini terdapat air terjun kecil yang diyakini sebagai air menuju pemandian raja yang dialirkan seperti sungai kecil masuk ke-Istana Raja.Masih menurut yarsana Lantai 5 tempat tim ekspedesi berada terdapat pintu masuk yang tertimbun tanah sebelumnya dapat dimasuki. Ketinggian masing-masing lantai Istana Raja ini 20 M jadi 5 lantai 100 M. Kantor
raja ini terdapat 764 Kamar dimana masing-masing kamar dihuni oleh seorang Kepala Bagian dengan stafnya. Jadi dapat dibayangkan betapa ramainya pegawai KerajaaN Sriwijaya dikala itu. Belum lagi kantor Panglima ,Kantor Waikil Raja yang berdekatan serta kantor Perdagangan
dan kantor Dharma Wanita (sekarang ) yang berseberangan Sungai Kinal serta Kantor-kantor lainnya yang berjejer disepanjang Bukit barisan yang jumlahnya mencapai 6600 buah. Suatu hal yang sangat luar biasa. Antara kantor Raja dan wakil Raja terdapat pemisah sekitar 30 Cm dan anehnya bila orang itu dikehendaki walupun tubuhnya besar dapat masuk dan sekitar berjarak 20-30 M dapat melihat lambang Tri Sakti ( Lambang 3 berlian) sebagai lambang Kerajaan Sriwijaya dengan jelas. Batu-batu bangunan dengan bahan batu alam namun sudah dibuat sedemikian rupa oleh tangan-tangan manusia,susunan bangunannya yang lurus dan batu-batu itu sudah dibuat seperti membuat Con Block (sekarang) dengan pecahan yang sangat halus. Konon kata Yarsana yang membangun Kantor raja Sriwijaya adalah 10.000 (sepuluh ribu) tenaga pertukangan ahli dari Mesir dan untuk membandingkannya dapat dilihat Phyramid di Mesir.

Dari Pusat Kantor Raja tim Ekspedesi meneruskan perjalanan melihat Batu Vihara yang cukup besar dan perkiraan Tingginya sekitar 2,0 M dan persisi sama batu Vihara di bali. Namun lebih tua batu Vihara yang ada di Pusat Kerajaan Sriwijaya. Bila kita menyeberangi sungai kita juga berjalan menuju sebuah bukit dimana disana terdapat banyak batu tengkorak maka dinamakan bukit tengkorak. Menurut Riwayat secara ghaib kepada Yarsaa dulu disana terjadi pertempuran dan banyak memakan korban jiwa sehingga dinamakan bukit Tengkorak. Rasanya sulit diterima akal sehat begitu megahnya jejak Kerajaan Sriwijaya yang menguasai Nusantara dan belahan Dunia ini.Belum lagi kita pergi ke-Danau 7 dimana terdapat Batu Geog. Untuk menuju kesana memakan waktu dua hari perjalanan . Danau 7 ungkap Yarsana airnya ada yang mengalir ke-Sungai Indikat dan Sungai Selangis dikota Pagar Alam. Sekitar pukul 12.00 Wib (19/2) tim ekspedisi Dinas Pariwisata Kota Pagar Alam meninggalkan pusat Kerajaan Sriwijaya dan Alhamdulillah dapat selamat sampai ketujuan. Perjalanan pulang dengan mengikuti jalan Masyarakat keladang ternyata lebih dekat dan hanya ditempuh sekitar 2 jam.
Hari Minggu (20/2) Tim Ekspedesi dengan koordinator Supratman dan anggota A.Hassanusi, Rahman, Firdaus dan Indra serta Sudarmo bertolak ke-Pagar Alam. Ada hal yang patut kita renungkan bahwa Kerajaan Sriwijaya secara Kasat Mata ada dibukit Raja Mendare yang lokasinya terdapat di 3 propinsi Bengkulu, Lampung dan Sumatera Selatan. Bukti Sejarah ini adalah bagian kecil yang baru terangkat, masih panjang perjalanan yang harus ditempuh, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan masih banyak misteri-misteri yang belum terungkap yang menuntut kerjasama, keyakinan dan kebersamaan untuk menuju kemaslahatan umat, khususnya Nusantara (Indonesia). Jika itu benar terjadi maka barangkali ada benarnya dugaan mendatang sejarah dunia akan berbalik, ibarat pepatah lama,”Batu Turun Kerikil Naik “
Semoga Allah Swt, merestui perjuangan kita.
(Oman,Inforkom,22/2/2005,jam :14.30 Wib). X
X: Penulis adalah salah satu Tim Ekspedesi Bukit Raje Mandare Dinas
Pariwisata Kota pagar Alam. Lihat di Sumber