Sriwijaya Sepenggal Sejarah Yang Hilang

“Sebuah kerajaan bisa saja tenggelam, namun suatu saat akan muncul lagi. Sriwijaya sejak Indonesia merdeka belum menjadi pokok pembicaraan, mungkin dari Pagar Alam ini akan dimulai.”
Ungkapan yang disampaikan Gubernur Provinsi Bengkulu, Agusrin M. Najamudin, itu mungkin ada benarnya. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia memang tak terlepas dari keberadaan kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan tertua Melayu kuno, dan memiliki pengaruh besar sampai ke wilayah Asia Tenggara mengingat kerajaan ini termasuk kerajaan maritim.
Sejarawan, Djohan Hanafiah dalam sebuah makalahnya yang disajikan dalam seminar bertajuk peradaban Besemah Sebagai Pendahulu Kerajaan Sriwijaya di kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Sabtu (28/1), mengungkapkan sejak sejarawan Prancis, George Coedes tahun 1918 menyatakan Sriwijaya beribukota di Palembang silang pendapatpun terjadi. Puluhan pakar sejarah dan praktisi berbagai disiplin ilmu telah mengungkapkan beragam pendapat dalam berbagai seminar, lokakarya, diskusi dan forum ilmiah lainnya yang tak menemui titik temu selama lebih dari 70 tahun terkait ibu kota kerajaan tersebut.
Masa kekuasaan Sriwijaya menurut Muslihun, seorang sejarawan Bengkulu, dimulai abad ke-6 sampai ke-7 masehi. Pusat kekuasaan terletak di Bukit Barisan bagian barat, masuk Kabupaten Kaur, propinsi Bengkulu. Kerajaan ini didukung sekitar 40 kerajaan wilayah yang otonom, tersebar di bekas kerajaan Srijaya dan Sribuana di pantai parat provinsi Bengkulu Selatan.Hampir dua abad kerajaan ini berpusat di kaki Bukit Barisan bagian barat.
Namun, setelah Dapunta Hyang Sri Jayanasa berkuasa, ia memerintahkan untuk menutup kerajaan dan memindahkan pusat pemerintahan ke Palembang. Kerajaan wilayah (raja kecil) pindah menyebar dari Riau sampai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Raja wilayah yang dipindahkan ke Jawa Tengah diminta secepatnya membangun candi guna mengalihkan perhatian, penutupan kerajaan di bukit barisan yang bertujuan untuk memajukan jagad ini. Proses penutupan kerajaan Sriwijaya yang berpusat di bukit barisan dan penyebaran raja-raja wilayah (raja kecil) dapat diketahui dengan mempelajari sejumlah prasasti yang dikeluarkan kerajaan pusat dan raja wilayah setelah mereka berada di wilayah yang baru. Seperti prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di daerah Kedukan Bukit, ditepi sungai Tatang dekat Palembang dengan angka 604 Saka atau 682 Masehi berhuruf palawa. Prasasti ini berisi kepindahan raja Sriwijaya dari istana di Bukit Barisan bagian barat (sekarang daerah Bengkulu) ke Palembang.
Suku Besemah
Lalu, apa kaitan antara kota Pagar Alam dengan Sriwijaya ? Perjalanan darat sekitar enam jam yang melelahkan dari kota Palembang ke Pagar Alam berupaya mengungkap keterkaitan antara kedua kota yang berjarak 298 kilometer itu. Kota Pagar Alam yang diapit gunung Dempo dan pegunungan Bukit barisan, dikenal sebagai wilayah Besemah. Istilah Besemah atau Pasemah adalah julukan bagi sekelompok orang yang menghuni wilayah tersebut. Merekapun menyebar sampai wilayah Bengkulu, Jambi dan Lampung yang dahulu masih bagian dari propinsi Sumatera Selatan.Sampai sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asal-usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku Besemah, masih diliputi kabut misteri. Mitos Poyang Atong Bungsu, menyebutkan mereka bermukim bersama rombongan keluarga. Atong Bungsu menemukan ikan Semah di perairan dataran tinggi antara bukit barisan dengan gunung Dempo hingga wilayah ini disebut Besemah. Dalam perkembangannya disebut sebagai tanah Besemah, ranah Besemah atau jagat Besemah.
Hidayat Harun, seorang sejarawan menyebutkan suku bangsa Besemah atau Pasemah memiliki peninggalan tradisi megalitik yang jumlahnya mencapai ratusan buah. Di dataran tinggi Pasemah terdapat banyak arca atau patung yang menggambarkan manusia masa kini. Batu megalit Hindu-Budha juga ditemukan di tanah Pesemah oleh sejumlah ahli arkeologi tahun 1932. Arca-arca tersebut ditemukan di dusun Tegur Wangi dan dusun lain di Pasemah yang menjadi peninggalan zaman megalit. Masyarakat Basemah juga menyimpan sejumlah benda bersejarah milik kerajaan Sriwijaya yang berbentuk emas, kain songket, senjata jaman Hindu dan sejumlah alat kesenian di abad ke-17. Bertepatan dengan pemerintahan Sultan Badarudin II yang berkuasa di Palembang sebelum dijajah Inggris maupun Belanda.
”Keberadaan Besemah sejajar dengan Sriwijaya. Kalau bicara Kesultanan, tidak ada Besemah. Yang menjadikan sultan Palembang adalah sultan Banten dan Cirebon,” kata Harun.
Namun menurut Noerhadi Magetsari, arkeolog dari Universitas Indonesia, Basemah memiliki peninggalan tradisi megalit, sedangkan Sriwijaya beragama Hindu/Budha. Kalau ingin dikatakan keduanya berkesinambungan dibutuhkan bukti seperti adanya peninggalan Hindu/Budha.Secara arkeologi sebelum ajaran Hindu/Budha datang, sudah ada kebudayaan yang berkembang. Budaya baru yang datang sifatnya hanya menyesuaikan. ”Kalau dikatakan Sriwijaya adalah kelanjutan dari Besemah belum ada buktinya. Tapi kalau disitu ada sebuah peradaban memang benar,” kata Noerhadi.
Namun, Noerhadi menambahkan tidak tertutup kemungkinan lain. Munculnyakerajaan Sriwijaya di Palembang bersamaan dengan berkembangnya Basemah sehingga keduanya hidup sejajar. ”Tapi sampai kini belum ada bukti ditemukannya peninggalan megalit di Sriwijaya. Jadi belum bisa dikatakan keduanya nyambung,” katanya. N hir
Kesultanan Siap Bantu
Pihak keraton kesultanan Palembang akan menyiapkan bantuan berupa dana dan fasilitas lain yang dibutuhkan bagi pengungkapan misteri sejarah Besemah dan kerajaan Sriwijaya tersebut.Ada tidaknya hubungan antara Besemah dan Palembang, akan diteliti kembali oleh Universitas Indonesia, guna menguatkan apa yang telah disampaikan di simposium tersebut.
”Kami akan bantu karena Palembang memiliki peninggalan bersejarah seperti batu bertulis, peninggalan Melayu kuno, Sriwijaya ekspansi ke Asia Tengara. Selama ini penelitian belum mampu mengungkap misteri lantaran keterbatasan dana dan kemampuan arkeolog untuk melakukan penelitian ,” kata Sultan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Di Palembang terdapat museum Sriwijaya dan Balaputradewa. Selain itu ada museum kesultanan yang bersebelahan dengan benteng Kuto Besak yang menjadi pusat pemerintahan kesultanan Palembang abad ke-18. Benteng Kuto Besak atau keraton baru dibangun menghadapi sungai Musi. Benteng itu kini menjadi markas Kodam Sriwijaya
Hal serupa juga disampaikan walikota Pagar Alam, Djazuli Kuris yang akan menyiapkan dana khusus dari APBD setempat. Namun, pihaknya masih akan meminta persetujuan DPRD mengingat jumlah yang dibutuhkan tidaklah kecil. ”Kami akan siapkan berapapun yang dibutuhkan, sesuai kemampuan. Kita serahkan ke ahlinya,” kata Kuris.
Seminar tersebut merupakan awal dari upaya panjang yang perlu dilakukan dalam mengungkap peninggalan sejarah megalitik peradaban Besemah termasuk kaitannya dengan kerajaan Sriwijaya. Tentunya upaya tersebut membutuhkan waktu, tenaga dan keseriusan dari semua pihak. ”Pengkajian Besamah merupakan upaya positif terhadap cinta pada budaya dan tanah air,”